Blog ini berfungsi sebagai portofolio digital bagi peserta Pendidikan Calon Guru Penggerak Angkatan 9 Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi Republik Indonesia Tahun 2023
26 September 2023
25 September 2023
21 September 2023
19 September 2023
Poster Ciri Khusus Hewan
15 September 2023
14 September 2023
Jurnal Refleksi
Jurnal refleksi ini adalah tulisan singkat yang
menggambarkan seluruh rangkaian kegiatan selama mempelajari modul 1.1. yaitu
tentang Filosofi Pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentang Pendidikan, dengan model
refleksi 4F (Fact, Feeling, Findings, Future)
Fact (Peristiwa)
Program Guru Penggerak angkatan 9 dibuka
perdana pada 16 Agustus 2023 melalui video conference dan disiarkan secara
langsung melalui Youtube Ditjen GTK Kemdikbud RI. Pada tanggal 18 Agustus 2023
seluruh Calon Guru Penggerak (CGP) diwajibkan mengerjakan pendahuluan di LMS
akun guru penggerak yang berisi
a. Informasi dan Pengumuman
b. Pengantar Program Pendidikan Guru Penggerak
c. Bahan Pendukung
Pada tanggal 19 Agustus s.d. 31 Agustus
2023 terdapat serangkaian aktivitas dalam Pendidikan CGP berupa Lokakarya
Orientasi, Eksplorasi Konsep, Ruang Kolaborasi, Demonstrasi Kontekstual, dan Elaborasi
Pemahaman/Koneksi Antar Materi, serta Aksi Nyata.
Dalam kegiatan Lokakarya Orientasi diundang
juga Pengawas dan Kepala Sekolah CGP. Tujuan Lokakarya Orientasi ini adalah:
·
agar CGP mengenal
ekosistem belajar di program guru penggerak;
·
CGP memahami program
Pendidikan Guru Penggerak (alur, peran tim pendukung, kompetensi lulusan);
·
CGP mengidentifikasi
posisi diri pada Kompetensi Guru Penggerak;
·
CGP dapat membuat
rencana pengembangan kompetensi diri Guru Penggerak, berikut dukungan yang
diperlukan, dan tantangan yang mungkin terjadi; dan
·
CGP memahami
pentingnya membuat Portofolio Digital, tahapan dan contoh Portofolio Digital
sebagai bagian dari pengembangan kompetensi.
Dalam kegiatan Lokakarya Orientasi ini ada
beberapa hal yang dibelajarkan, yaitu kesepakatan kelas, harapan dan
kekhawatiran, pengantar program Pendidikan Guru Penggerak (PGP) dan perjalanan
CGP, posisi diri, rencana pengembangan kompetensi diri, pengenalan Portofolio
Digital, serta refleksi peserta CGP.
Pada kegiatan Lokakarya Orientasi ini CGP
diberikan tugas untuk mengerjakan Lembar Kerja (LK), yaitu LK 1 tentang
Kesepakatan Peran CGP dan Kepala Sekolah, LK 2 tentang Pengecekan Mandiri
Kompetensi GP, LK 3 tentang Evaluasi Diri Guru Penggerak, LK 4 tentang Rencana
Pengembangan Kompetensi Diri dan LK 5 tentang Evaluasi Lokakarya
Orientasi.
Feeling (Perasaan)
Selama dua minggu mengikuti pendidikan guru
penggerak ini berbagai macam perasaan yang saya rasakan, antara senang, bangga,
dan juga khawatir tidak dapat melaksanakan pendidikan ini dengan baik dan
maksimal, bahkan insecure atau merasa minder karena melihat teman-teman calon
guru penggerak yang hebat. Semua terasa bercampur aduk dengan keinginan dan
tekad yang kuat untuk dapat menyelesaikan Program Guru Penggerak ini.
Banyak ilmu pengetahuan yang saya dapatkan
selama menjalani kegiatan ini, misalnya bagaimana menjadi guru yang selayaknya,
bagaimana berhamba pada anak, upaya apa yang harus dilakukan, dan lainnya.
Keseluruhan rangkaian yang ada di dalam LMS membuat saya merasakan bahwa apa
yang saya miliki tentang pendidikan sangat jauh dari pemikiran filosofis Ki
Hajar Dewantara.
Apalagi ketika saya mulai menerapkan filosofis
Ki Hajar Dewantara dalam pembelajaran di kelas. Saya merasa kasih sayang saya
terhadap murid semakin bertambah. Saya tidak lagi memandang murid yang sering
bercanda dan bermain-main di kelas sebagai anak yang nakal, karena saya
menyadari bahwa kodrat anak adalah bermain. Sebisa mungkin guru menciptakan
kondisi selamat dan menyenangkan murid.
Findings (Pembelajaran)
Dari pembelajaran Modul 1.1 tentang Refleksi
Filosofis Pendidikan Nasional - Ki Hajar Dewantara ini saya mendapat ilmu untuk
meningkatkan kompetensi sebagai seorang pendidik. Sebagai seorang pendidik saya
harus menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak, agar mereka dapat
mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai
manusia maupun anggota masyarakat dengan mengacu pada trilogi pendidikan yaitu ing
ngarso sung tuladha, ing madya mangun karso, dan tut wuri handayani.
Dari pembelajaran ini, saya baru mengetahui
bahwa pengajaran dan pendidikan harus selaras dengan penghidupan dan kehidupan
bangsa agar semangat cinta tanah air dapat terus terpelihara. Ki Hajar
Dewantara menekankan agar pendidikan selalu memperhatikan; a) Kodrat Alam, b)
Kemerdekaan, c) Kemanusiaan, d) Kebudayaan, dan e) Kebangsaan.
Semua ini tujuannya yaitu agar terwujud
pendidikan yang memerdekakan anak. Oleh karena itu, saya harus memberikan
kemerdekaan kepada anak-anak dalam mengembangkan potensi yang dimilikinya,
sebab anak bukanlah kertas kosong, melainkan anak itu sebagai kertas putih yang
sudah berisi coretan namun masih buram, tugas kita sebagai guru untuk
menjadikan coretan yang buram itu semakin jelas.
Artinya setiap anak sudah memiliki bakat dan
potensinya masing-masing. Selain itu, berdasarkan filosofis pendidikan yang
disampaikan oleh Ki Hajar Dewantara, kita harus memandang anak sebagai individu
yang berbeda dan unik. Setiap anak punya gaya belajar dan potensinya
masing-masing, sehingga kita sebagai guru harus melaksanakan pembelajaran yang
berdiferensiasi.
Artinya dalam melaksanakan pembelajaran guru
harus selalu memperhatikan perbedaan individu dan juga melaksanakan pembelajaran
yang berpusat pada anak. Jangan memaksakan metode atau strategi yang menurut
guru baik namun belum tentu memperhatikan setiap perbedaan individu.
Di sisi lain, menerapkan budi pekerti yang
luhur atau akhlak mulia merupakan keharusan yang tidak terbantahkan dengan cara
mengintegrasikan setiap proses pembelajaran dengan pencapaian Profil Pelajar
Pancasila yaitu beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak
mulia, berkebinekaan global, gotong royong, mandiri, bernalar kritis dan
kreatif.
Future (Penerapan)
Dari pembelajaran Modul 1.1 tentang Refleksi
Filosofis Pendidikan Nasional - Ki Hajar Dewantara ini, memotivasi saya untuk
melakukan hal terbaik dalam pembelajaran agar tujuan pendidikan bisa tercapai
sejalan dengan pemikiran filosofis Ki Hajar Dewantara, diantaranya:
·
Mengubah pandangan
bahwa murid bukan seperti kertas putih kosong,
·
Mengubah metode dan
model pembelajaran di kelas yang memperhatikan kebutuhan murid,
·
Mengubah cara
pandang terhadap murid yang semula berorientasi pada nilai menjadi berorientasi
pada proses,
·
merancang dan
melakukan asessmen diagnostik awal untuk mengetahui profil murid,
·
merancang
pembelajaran sesuai dengan hasil asessmen diagnostik awal yang telah dilakukan,
·
membuat kesepakatan
belajar, dan
·
melaksanakan
pembelajaran dengan metode bermain sambil belajar.
13 September 2023
Refleksi Filosofis Pendidikan Nasional - Ki Hadjar Dewantara
Reflektif Kritis Ki Hadjar Dewantara (KHD) membedakan kata Pendidikan dan Pengajaran dalam memahami arti dan tujuan Pendidikan. Menurut KHD, pengajaran (onderwijs) adalah bagian dari Pendidikan.
Pengajaran merupakan proses Pendidikan dalam memberi ilmu atau berfaedah untuk kecakapan hidup anak secara lahir dan batin. Sedangkan Pendidikan (opvoeding) memberi tuntunan terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar ia mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai seorang manusia maupun sebagai anggota masyarakat.
Jadi menurut KHD (2009), “pendidikan dan pengajaran merupakan usaha persiapan dan persediaan untuk segala kepentingan hidup manusia, baik dalam hidup bermasyarakat maupun hidup berbudaya dalam arti yang seluas-luasnya”
Pendidikan adalah tempat persemaian benih-benih kebudayaan dalam masyarakat. KHD memiliki keyakinan bahwa untuk menciptakan manusia Indonesia yang beradab maka pendidikan menjadi salah satu kunci utama untuk mencapainya. Pendidikan dapat menjadi ruang berlatih dan bertumbuhnya nilai-nilai kemanusiaan yang dapat diteruskan atau diwariskan.
Ki Hadjar menjelaskan bahwa tujuan pendidikan yaitu: menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Oleh sebab itu, pendidik itu hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat anak”.
Dalam menuntun laku dan pertumbuhan kodrat anak, KHD mengibaratkan peran pendidik seperti seorang petani atau tukang kebun. Anak-anak itu seperti biji tumbuhan yang disemai dan ditanam oleh pak tani atau pak tukang kebun di lahan yang telah disediakan. Anak-anak itu bagaikan bulir-bulir jagung yang ditanam. Bila biji jagung ditempatkan di tanah yang subur dengan mendapatkan sinar matahari dan pengairan yang baik maka meskipun biji jagung adalah bibit jagung yang kurang baik (kurang berkualitas) dapat tumbuh dengan baik karena perhatian dan perawatan dari pak tani. Demikian sebaliknya, meskipun biji jagung itu disemai adalah bibit berkualitas baik namun tumbuh di lahan yang gersang dan tidak mendapatkan pengairan dan cahaya matahari serta „tangan dingin‟ pak tani, maka biji jagung itu mungkin tumbuh namun tidak akan optimal.
Dalam proses “menuntun”, anak diberi kebebasan namun pendidik sebagai „pamong‟ dalam memberi tuntunan dan arahan agar anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Seorang „pamong‟ dapat memberikan „tuntunan‟ agar anak dapat menemukan kemerdekaannya dalam belajar. KHD juga mengingatkan para pendidik untuk tetap terbuka namun tetap waspada terhadap perubahan-perubahan yang terjadi, “waspadalah, carilah barang-barang yang bermanfaat untuk kita, yang dapat menambah kekayaan kita dalam hal kultur lahir atau batin. Jangan hanya meniru. Hendaknya barang baru tersebut dilaraskan lebih dahulu”. KHD menggunakan „barang-barang‟ sebagai simbol dari tersedianya hal-hal yang dapat kita tiru, namun selalu menjadi pertimbangan bahwa Indonesia juga memiliki potensi-potensi kultural yang dapat dijadikan sebagai sumber belajar












