14 November 2023

2.2.a.8. Koneksi Antar Materi - Modul 2.2

 

2.2.a.8. Koneksi Antar Materi - Modul 2.2



Nama CGP     : HANDOKO, S.Pd.SD.

Sekolah           : SDN Temandang II Kec. Merakurak Kab. Tuban

  1. Sebelum mempelajari modul 2.2 ini, saya berpikir bahwa Pembelajaran  Sosial Emosional hanya untuk PTK saja sebagai konsumsi orang dewasa sehingga saya tak pernah berpikir bahwa hal ini perlu diterapkan kepada murid di sekolah.
    Setelah mempelajari modul ini, ternyata Pembelajaran Sosial Emosional sangat penting untuk menunjang perkembangan belajar murid maupun PTK dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan menyenangkan. PSE dengan 5 (lima) Kompetensi Sosial Emosional juga dapat meningkatkan kompetensi akademik dan kesejahteraan psikologis (Well-Being).
  2. Berkaitan dengan kebutuhan belajar dan lingkungan yang aman dan nyaman untuk memfasilitasi seluruh individu di sekolah agar dapat meningkatkan kompetensi akademik maupun kesejahteraan psikologis (well-being),  3 hal mendasar dan penting yang saya pelajari adalah:

-       Integrasi dalam Praktek Mengajar Guru dan Kurikulum Akademik

-       Menciptakan Iklim Kelas dan Budaya Sekolah

-       Penguatan Kompetensi Sosial dan Emosional Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) di Sekolah

  1. Berkaitan dengan no 2, perubahan yang akan saya terapkan di  kelas dan sekolah:
    1. bagi murid-murid:

-       Implementasi PSE dengan pengajaran eksplisit  memastikan murid memiliki kesempatan yang konsisten untuk menumbuhkan, melatih, dan berefleksi tentang  kompetensi sosial dan emosional  dengan cara yang sesuai  dan terbuka dengan keragaman budaya.  Pengajaran eksplisit KSE dilaksanakan dalam bentuk kegiatan roda emosi, menyanyikan yel-yel, ice breaking, diskusi kelompok, berdo’a, dsb.  Dapat juga menggunakan berbagai proyek,  acara atau  kegiatan sekolah  yang rutin  untuk mengajarkan kompetensi sosial dan emosional secara eksplisit dan terintegrasi dalam kurikulum akademik.

 

    1. bagi rekan sejawat:

-       Implementasi PSE dengan pengajaran eksplisit pada aspek menjadi teladan dapat berupa menjadi figure panutan dalam hal kedisiplinan, tertib administrasi, pembuatan media pembelajaran, dan berbagi praktik baik. Dalam aspek belajar CGP dapat mendorong diri sendiri dan rekan sejawat untuk mengakses pembelajaran mandiri di PMM ataupun mengikuti diklat dan workshop dalam berbagai kesempatan. Sedangkan dalam aspek kolaborasi, CGP dapar memanfaatkan perannya dalam mendukung berbagai kegiatan ekstrakurikuler yang diampu oleh rekan sejawat contohnya menjadi guru tahfidz, menjadi pembina murid yang mengikuti lomba siswa prestasi dari kelas lain, mengoptimalkan peran sebagai sekretaris KKG dalam berbagai kerja sama antar guru baik internal sekolah maupun antar sekolah dalam wilayah gugus.

 

Pembelajaran Sosial dan Emosional adalah pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif oleh seluruh komunitas sekolah. Proses kolaborasi ini memungkinkan anak dan pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah memperoleh dan menerapkan pengetahuan, keterampilan dan sikap positif mengenai aspek sosial dan emosional

Kesadaran penuh (Mindfulness) yaitu kesadaran  yang muncul ketika seseorang memberikan perhatian secara sengaja pada kondisi saat sekarang dilandasi rasa ingin tahu (tanpa menghakimi) dan kebaikan.

5 Kompetensi Sosial dan Emosional :

1.    Kesadaran diri

2.    Manajemen diri

3.    Kesadaran sosial

4.    Keterampilan berelasi

5.    Pengambilan keputusan yang bertanggung jawab

Kesadaran diri, yaitu kemampuan untuk memahami perasaan, emosi, dan nilai-nilai diri sendiri, dan bagaimana pengaruhnya pada perilaku diri dalam berbagai situasi dan konteks kehidupan

Manajemen diri, yaitu kemampuan untuk mengelola emosi, pikiran, dan perilaku diri secara efektif dalam berbagai situasi dan untuk mencapai tujuan dan aspirasi.

Kesadaran sosial, yaitu kemampuan untuk memahami sudut pandang dan dapat berempati dengan orang lain termasuk mereka yang berasal dari latar belakang, budaya, dan konteks yang berbeda-beda.

Keterampilan berelasi, yaitu kemampuan untuk membangun dan mempertahankan hubungan-hubungan yang sehat dan suportif

Pengambilan keputusan yang bertanggung jawab, yaitu kemampuan untuk mengambil pilihan-pilihan membangun yang berdasar atas kepedulian, kapasitas dalam mempertimbangkan standar-standar etis dan rasa aman, dan untuk mengevaluasi manfaat dan konsekuensi dari bermacam-macam tindakan dan perilaku untuk kesejahteraan psikologis (well-being) diri sendiri, masyarakat, dan kelompok.

RUANG LINGKUP PEMBELAJARAN SOSIAL DAN EMOSIONAL

1.    Rutin (dilakukan diluar waktu belajar akademik

2.    Terintegrasi dalam Mata Pelajaran (diskusi, penugasan,

3.    Protokol (menjadi budaya atau  aturan sekolah)

KESIMPULAN:

Pembelajaran Sosial dan Emosional dapat dilaksanakan diluar waktu belajar akademik, Terintegrasi dalam Mata Pelajaran sehingga akan tercipta Well-Being ekosistem Pendidikan yang nyaman, sehat, Bahagia, sejalan dengan Filosofi Ki Hadjar Dewantara.

KONEKSI ANTAR MATERI

KAITAN PEMBELAJARAN SOSIAL DAN EMOSIONAL – FILOSOFI KI HADJAR DEWANTARA

Budaya positif yang dikembangkan diharapkan dapat mendorong pemenuhan  kebutuhan belajar siswa sesuai kodrat yang dimiliki. Hal ini sejalan dengan Filoofi KHD (kodrat alam dan kodrat zaman)

KAITAN PEMBELAJARAN SOSIAL DAN EMOSIONAL – NILAI DAN PERAN GURU PENGGERAK

Guru dapat mengelola emosi sehingga pembelajaran yang berpusat pada murid dapat berlajan dengan baik, seimbang dan terwujud apa yang ingin dicapai. Guru Penggerak harus bisa menggunakkan segala kekuatan dan potensi yang ada untuk membangun budaya positif sekolah

KAITAN PEMBELAJARAN SOSIAL DAN EMOSIONAL –VISI GURU PENGGERAK

Dengan pembelajaran social emosional guru dapat mewujudkan visi yang diharapkan yaitu membentuk karakter siswa yang sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila

KAITAN PEMBELAJARAN SOSIAL DAN EMOSIONAL – BUDAYA POSITIF

Guru Penggerak harus bisa menggunakkan segala kekuatan dan potensi yang ada untuk membangun budaya positif sekolah

KAITAN PEMBELAJARAN SOSIAL DAN EMOSIONAL – PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI

Pembelajaran berdiferensiasi dan pembelajaran sosial emosional dengan pendekatan kesadaran penuh (mindfulness) dan Teknik STOP dapat dijadikan metode dan pendekatan yang dapat mewujudkan well-being sehingga terwujudnya profil pelajar pancasila

Tidak ada komentar:

Posting Komentar