Tugas 1.4.1.8. Koneksi Antar Materi Modul 1.4. Budaya Positif
Nama CGP :
Handoko, S.Pd.SD
Kelas : 215-B Kab. Tuban
Nama PP :
Kasmi, S.Pd.
Nama Fasil : Efita Sukarlin, S.Pd.AUD
Tujuan Pembelajaran Khusus:
·
CGP memahami
keterkaitan konsep budaya positif dengan materi pada modul 1.1, 1.2 dan 1.3.
·
CGP dapat menyusun
langkah dan strategi yang lebih efektif, konkret, dan realistis untuk
mewujudkan budaya positif di sekolah.
1.
Kesimpulan mengenai
peran Anda dalam menciptakan budaya positif di sekolah dengan menerapkan
konsep-konsep inti seperti disiplin positif, motivasi perilaku manusia (hukuman
dan penghargaan), posisi kontrol restitusi, keyakinan sekolah/kelas, segitiga restitusi dan
keterkaitannya dengan materi sebelumnya yaitu Filosofi Pendidikan Nasional Ki
Hadjar Dewantara, Nilai dan Peran Guru Penggerak, serta Visi Guru Penggerak.
Menerapkan budaya positif adalah suatu
hal yang harus dilakukan oleh seorang guru. Dengan penerapan budaya positif,
maka akan menghasilkan suatu ekosistem sekolah yang penuh dengan suasana
positif. Hal positif itu akan mudah menular jika dilakukan secara konsisten dan
tentunya dilakukan secara kolaborasi. Karena beragamnya karakter siswa dan
guru, kita harus mengetahui konsep-konsep inti budaya positif dalam
penerapannya. Konsep-konsep inti dalam budaya positif di antaranya disiplin
positif, motivasi perilaku manusia (hukuman dan penghargaan), posisi kontrol
restitusi, keyakinan sekolah/kelas, dan
segitiga restitusi. Materi tentang budaya postif sangat berkaitan dengan modul
yang dipelajari sebelumnya, yakni:
a. Kaitan Budaya Positif dengan Materi Modul 1.1.
Filosofi Pendidikan Nasional Ki Hadjar Dewantara.
Budaya positif sangat berkaitan dengan filosofi
pendidikan Ki Hadjar Dewantara. Dalam Filosofi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara
dijelaskan mengenai pendidikan yang menuntun sesuai dengan kodrat anak. Dalam
proses menuntun tersebut tentunya membutuhkan ekosistem pendidikan yang
menerapkan budaya positif.
b. Kaitan Budaya Positif dengan Materi Modul 1.2.
Peran dan Nilai Guru Penggerak
Pemahaman tentang budaya positif akan mendukung
peran dan nilai guru penggerak dalam proses pembelajaran yang dilakukan. Guru
harus senantiasa menerapkan konsep inti budaya positif dalam mengaktualisasikan
nilai dan peran yang dimilikinya.
c. Kaitan Budaya Positif dengan Materi Modul 1.3.
Visi Guru Penggerak
Dalam rangka mewujudkan visinya, seorang guru
penggerak harus menerapkan budaya positif dalam prosesnya. Visi guru yang luar
biasa akan mudah tercapai jika dirinya dan lingkungan pembelajarannya sudah
menerapkan budaya positif.
2.
Buatlah sebuah
refleksi dari pemahaman Anda atas keseluruhan materi Modul Budaya Positif ini
dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini:
a)
Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep inti yang telah
Anda pelajari di modul ini, yaitu: disiplin positif, teori kontrol, teori
motivasi, hukuman dan penghargaan, posisi kontrol guru, kebutuhan dasar
manusia, keyakinan kelas, dan segitiga restitusi. Adakah hal-hal yang menarik
untuk Anda dan di luar dugaan?
- Disiplin
Positif
Disiplin positif adalah pendekatan untuk menuntun kodrat anak agar
berdaya dalam mengontrol diri dan menguasai diri untuk memilih tindakan yang
mengacu nilai-nilai kebajikan. Disiplin positif menjadi komponen utama dalam
mewujudkan budaya positif.
- Teori
Kontrol
Di dalam teori kontrol dijelaskan bahwa yang bisa mengontrol
seseorang adalah dirinya sendiri. Seseorang akan melakukan sesuatu atau tidak
tergantung dari dalam diri orang tersebut sesuai dengan motivasi pemenuhan
dasar yang dimilikinya.
- Teori
Motivasi
Perilaku yang ditunjukkan manusia pasti memiliki motivasi dan
tujuan. Motivasi dibagi menjadi dua, yakni motivasi internal dan eksternal.
Motivasi internal adalah motivasi yang diinginkan oleh seseorang dalam rangka
menghargai diri dnegan nilai yang diyakininya. Sementara itu, motivasi
eksternal di antaranya adalah keinginan yang dilakukan dalam rangka menghindari
ketidaknyamanan/hukuman atau ingin mendapatkan imbalan/penghargaan.
- Hukuman
dan Penghargaan
Hukuman dan penghargaan adalah salah satu cara mengontrol perilaku
murid yang secara tidak langsung menghambat potensinya. Dalam jangka waktu
tertentu, baik hukuman dan penghargaan akan sama0sama memberikan dampak yang
sama, yakni ketergantungan (bukan kemerdekaan) dan tentunya mematikan motivasi
internal seseorang.
- Posisi
Kontrol Guru
Ada lima posisi kontrol guru, yakni:
1) Sebagai penghukum
2) Sebagai pembuat
rasa bersalah
3) Sebagai teman
4) Sebagai pemantau
5) Sebagai manajer
- Kebutuhan
Dasar Manusia
Ada lima jenis kebutuhan dasar manusia,
yakni
1)
Kebutuhan bertahan
hidup
2)
Kasih sayang dan
rasa memiliki
3)
Kebebasan
4)
Kesenangan
5)
Penguasaan
- Keyakinan
Kelas
Keyakinan kelas adalah nilai-nilai
kebajikan yang diyakini oleh warga kelas untuk menumbuhkan motivasi internal
dan budaya positif di kelas.
- Segitiga
Restitusi
Restitusi adalah proses menciptakan kondisi bagi murid untuk
memperbaiki kesalahan mereka, sehingga mereka bisa kembali pada kelompok
mereka, dengan karakter yang lebih kuat. Restitusi juga merupakan proses
kolaboratif yang mengajarkan murid untuk mencari solusi untuk masalah mereka,
dan membantu murid berpikir tentang orang seperti apa yang mereka ingin menjadi
(tujuan mulia), dan bagaimana mereka harus memperlakukan orang lain. Segitiga
Restitusi adalah alur untuk menegakkan keyakinan bersama di dalam kelas atau
sekolah. Ada tiga unsur segitiga restitusi, yakni:
1) Menstabilkan identitas
2) Validasi tindakan yang salah
3) Menanyakan keyakinan
- Hal
yang menarik dan di luar dugaan
1)
Ternyata hukuman dan
penghargaan tidak efektif untuk diberikan kepada siswa
2)
Ada lima posisi
kontrol guru dalam menangani siswa yang bermasalah. Saat ini saya lebih banyak
di posisi guru sebagai teman dan guru sebagai pemantau. Ke depannya saya akan
selalu berusaha untuk menempatkan diri di posisi guru sebagai manajer.
3)
Dengan mengetahui
kebutuhan dasar manusia, kita bisa memetakan motivasi yang dilakukan seorang
siswa saat ia berbuat sesuatu yang tidak sesuai dengan aturan/keyakinan
sekolah.
4)
Keyakinan kelas
ternyata berbeda dengan aturan/kesepakatan kelas.
5)
Saya sering
melakukan bagian dari segitiga restitusi, yakni menstabilkan identitas dan
validasi tindakan, tetapi saya baru tahu ada bagian menanyakan keyakinan kelas.
Hal itu cukup menarik dan penting untuk pemahaman saya.
b)
Perubahan apa yang terjadi pada cara berpikir Anda dalam
menciptakan budaya positif di kelas maupun sekolah Anda setelah mempelajari
modul ini?
Setelah mempelajari modul ini, ada
perubahan cara berpikir saya, yakni:
1)
Membuka sudut
pandang saya tentang motivasi yang dilakukan oleh seseorang dan kaitannya
dengan pemenuhan kebutuhan dasarnya. Oleh sebab itu, saya bisa menganalisis apa
yang dibutuhkan dan diinginkannya sehingga bisa mempermudah dalam mencarikan
solusi yang tepat.
2)
Ternyata baik hukuman
dan penghargaan kurang efektif jika diterapkan dalam pembelajaran.
3)
Saya berpikir bahwa
guru harus menempatkan dirinya sebagai manajer dalam menangani permasalah pada
siswa.
4)
Dengan segitiga
restitusi saya percaya akan mendukung pembelajaran yang berpihak kepada siswa
dan mendukung terciptanya budaya positif.
c)
Pengalaman seperti apakah yang pernah Anda alami terkait penerapan
konsep-konsep inti dalam modul Budaya Positif baik di lingkup kelas maupun
sekolah Anda?
Saya pernah melakukan bagian dari segitiga restitusi, tetapi tidak
menerapkan langkah “menanyakan keyakinan” karena memang belum membuat suatu
keyakinan kelas/sekolah. Maka dari itu, ke depannya saya akan membentuk
keyakinan kelas agar bisa menjadi pedoman saat menerapkan segitiga restitusi
pada siswa.
d) Bagaimanakah perasaan Anda ketika mengalami
hal-hal tersebut?
Saat mendapati siswa yang bermasalah, ada rasa amarah yang muncul.
Namun, saya segera sadar bahwa amarah justru akan menambah masalah. Oleh sebab
itu, saya menggali apa motivasi yang mendorong siswa untuk berbuat salah. Saat
siswa menyadari bahwa dia salah dan beruapaya memperbaiki diri, saya cukup lega
dan senang.
e)
Menurut Anda, terkait pengalaman dalam penerapan konsep-konsep
tersebut, hal apa sajakah yang sudah baik? Adakah yang perlu diperbaiki?
Dalam penerapan segitiga restitusi, saya kurang di bagian
menanyakan keyakinan. Untuk itu, ke depannya saya akan membuat keyakinan
kelas/sekolah untuk bisa dipedomani saat menerapkan segitiga restitusi kepada
siswa yang melakukan suatu kesalahan.
f)
Sebelum mempelajari modul ini, ketika berinteraksi dengan murid,
berdasarkan 5 posisi kontrol, posisi manakah yang paling sering Anda pakai, dan
bagaimana perasaan Anda saat itu? Setelah mempelajari modul ini, posisi apa yang Anda pakai, dan bagaimana perasaan
Anda sekarang? Apa perbedaannya?
Sebelum mempelajari modul 1.4. saya lebih banyak menempatkan diri
di posisi guru sebagai teman dan pemantau. Perasaannya masih kurang puas karena
siswa terkadang masih melakukan masalah yang sama (berulang). Setelah
mempelajari modul ini saya akan memakai posisi sebagai manajer. Perbedaannya
adalah dengan posisi manajer, siswa bisa menyadari masalah yang dilakukannya
dan memberikan ruang kepada siswa untuk menyelesaikan masalah dengan solusinya
sendiri.
g)
Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan segitiga
restitusi ketika menghadapi permasalahan murid Anda? Jika iya, tahap mana yang
Anda praktekkan dan bagaimana Anda mempraktekkannya?
Pernah, tetapi belum lengkap. Saya menerapkan di bagian menstabilkan
identitas dan validasi tindakan yang salah. Nah, bagian yang belum saya
laksanakan adalah bagian menanyakan keyakinan karena belum ada pembentukan
keyakinan kelas/sekolah.
h)
Selain konsep-konsep yang disampaikan dalam modul ini, adakah
hal-hal lain yang menurut Anda penting untuk dipelajari dalam proses
menciptakan budaya positif baik di lingkungan kelas maupun sekolah?
Hal yang penting untuk dipelajari dalam proses menciptakan budaya
positif di lingkungan kelas atau sekolah adalah perlunya tindakan konsisten dan
kolaboratif untuk mendukung tumbuhnya budaya positif.
Rancangan Tindakan untuk Aksi Nyata
Judul Modul :
Diseminasi Budaya Positif di Sekolah
Nama CGP :
Handoko, S.Pd.SD
A. Latar Belakang
Proses pembelajaran di sekolah akan berjalan
dengan baik jika ditopang dengan penerapan budaya positif. Dengan budaya
positif, akan terwujud pembelajaran yang berpihak kepada murid sehingga murid bisa
belajar dengan aman, nyaman, dan bahagia.
Untuk mendukung terwujudnya budaya positif di sekolah perlu adanya
pembentukan keyakinan kelas dan penerapan disiplin positif restitusi. Di SDN
Temandang II tidak semua guru paham tentang keyakinan kelas dan restitusi. Oleh
karena itu, perlu dilakukan diseminasi sebagai bentuk pengimbasan tentang
pembuatan keyakinan kelas dan penerapan restitusi.
B. Tujuan
Tujuan dari aksi nyata adalah guru mendapatkan pemahaman mengenai
keyakinan kelas dan segitiga restitusi sehingga bisa diterapkan di sekolah
untuk mendukung terwujudnya budaya positif.
C. Tolok Ukur
Tolok ukur keberhasilan kegiatan ini adalah:
1. Guru memahami konsep pembuatan keyakinan kelas
dan penerapan segitiga restitusi.
2. Adanya poster atau dokumen keyakinan kelas yang
dipajang di setiap kelas.
3. Guru mampu menerapkan segitiga restitusi saat
menangani permasalahan siswa.
D. Linimasa Tindakan yang Akan Dilakukan
1. Membuat perencanaan kegiatan
2. Membuat materi tentang budaya positif dalam
bentuk slide Powerpoint
3. Berkonsultasi dengan kepala sekolah untuk
mendapatkan masukan mengenai materi yang sudah dibuat dan penentuan jadwal
sosialisasi.
4. Bekerja sama dengan petugas sarana prasarana
untuk mempersiapkan ruang presentasi.
5. Melaksanakan presentasi/sosialisasi
6. Refleksi kegiatan
E. Dukungan yang Dibutuhkan
1. Dukungan berupa izin pelaksanaan kegiatan dari
kepala sekolah
2. Dukungan dari rekan sejawat/guru untuk
mengikuti kegiatan sosialisasi.
3. Sarana prasarana dan petugas yang mendukung
pelaksanaan sosialisasi